Home / Dipantara / Olahraga / Pragmatisme: Raja Baru Sepakbola

Pragmatisme: Raja Baru Sepakbola

(Sumber gambar: Tandaseru.id)

Oleh: Boy Doreng*

Di zaman yang serba maju dan modern sekarang ini, manusia cenderung bertanya perihal apa yang diperoleh. Apa yang saya peroleh ketika saya berbuat demikian? Bahkan saking terobsesi dengan “apa yang ingin diperoleh” itu, orang bisa saja melakukan dan mengorbankan segala cara dan akibat.

Cara-cara itu beragam, dari yang biasa-biasa saja sampai yang luar biasa; dari yang amatiran sampai profesional; dan dari negosiasi di “ruang terbuka” sampai kongkalikong “di ruang tertutup”. Segala cara dapat dihalalkan asalkan tujuan tercapai, walaupun seringkali harus melawan nurani dan mencederai akal sehat. Semua tak masalah asalkan hasil atau tujuan tercapai.

Namun, persoalan akan segera muncul manakala manusia-manusia zaman kini, dalam mencapai tujuannya, seringkali melakukan itu “di ruang tertutup” dengan cara luar biasa layaknya oleh seorang profesional. Persoalan ini tidak hanya terjadi pada satu bidang kehidupan, tetapi sudah menjalar ke bidang kehidupan lain.

Dalam dunia sepakbola terjadi hal yang sama. Juventus, klub kesayangan orang-orang Turin dan salah satu raksasa sepakbola Italia pernah melakukan hal di atas. Skandal calciopoli atau pengaturan skor yang menjerat Si Nyonya Tua itu memaksa Georgio Chellini, dkk. harus rela turun ke Serie B dan kehilangan mahkota juara Serie A. Juventus saat itu menjadi juara bermodalkan negosiasi di ruang tertutup dengan cara yang luar biasa dan profesional. Persaingan panas di pentas liga membuat “orang-orang di balik layar” klub tersebut “memutar otak” dan mencari cara cepat dan ampuh agar Si Nyonya Tua bisa juara. Maka, mereka bergerak di ruang tertutup, bertemu dengan perwakilan klub lain untuk membicarakan misi tersebut. Pembicaraan-pembicaraan itu tidak jauh dari skor atau berapa gol yang dicetak dan pastinya, Juventus harus menang. Hasilnya, Juventus naik takhta dan menjadi raja Italia musim itu.

Memori calciopoli di Italia seakan hidup kembali ketika kita di Tanah Air dihebohkan dengan isu pengaturan skor dan matchfixing. Pengaturan skor dan matchfixing sebenarnya merupakan fenomena gunung es yang perlahan mulai terungkap.

Beberapa penting PSSI, manager klub, bandar judi, dan wasit sudah menjadi tersangka. Terakhir kita menyaksikan Joko Driyono, “sesepuh” sepakbola Indonesia yang juga PLT ketua PSSI ditangkap Satgas anti-mafia bola. Tentu kita sangat mengapresiasi kerja tim Satgas yang saat ini bekerja dengan maksimal. Namun, adalah sebuah kekonyolan dan keanehan ketika muncul suara-suara yang mengatakan bahwa Jokdri (Joko Driyono) itu aset sepakbola yang harus dilindungi.

Pragmatisme sudah menjangkiti sepakbola. Parahnya, pragmatisme itu tidak hanya sampai pada tataran taktik semata sebagaimana yang diusung oleh Antonio Conte atau Mourinho, tetapi menjangkiti semua bidang seperti pengelolaan klub, mekanisme transfer, dan pembinaan usia dini. Maka, jangan heran kalau dalam beberapa tahun terakhir beberapa rekor transfer terjadi. Barcelona – penghasil pemain-pemain muda berbakat – menjadi “Madrid”, “Chelsea”, atau “M. City” baru yang suka membeli “pemain jadi” dan suporter yang mulai mengeluh soal harga tiket. Saking kesalnya dengan transfer Alexis Sanchez dari Arsenal ke rivalnya Manchester United, Martin Keown seorang legenda Arsenal berujar,

“Ia hanyalah mengejar uang, tidak peduli klub apa yang akan dibelanya. Ia adalah prajurit bayaran terbesar dalam sejarah sepakbola Inggris”.

Pragmatisme pun secara perlahan-lahan menghilangkan nilai dan pelajaran dari sepakbola, sebab adar atau tidak, sepakbola adalah kuliah kehidupan. Sepakbola dalam beberapa babak berhasil menyebarkan benih-benih kemanusiaan yang sangat susah tumbuh di zaman sekarang. Dari ruang ganti, tribun suporter, sampai lapangan, sepakbola telah mengajarkan banyak hal.

Dummy, salah seorang fans Glasgow Rangers, kepada Franklin Foer, penulis buku How Soccer Explains The World pernah berujar: “Aku cinta kesebelasan Rangers. Jika harus memilih antara pekerjaanku dengan Rangers, aku akan memilih Rangers. Jika harus memilih antara istriku dengan Rangers, aku pilih Rangers!”

Sportivitas, kerja sama, toleransi, dan bahkan demokrasi adalah hal-hal lumrah dalam sepakbola. Nilai-nilai tersebut merupakan keutamaan yang ada dalam sepakbola. Tragedi Emiliano Sala adalah salah satu bukti nyata bahwa simpati dan empati bersemai dengan baik dalam sepakbola. Hampir seluruh pemain dan penggemar sepakbola menyatakan empati dan dukacita mendalam atas peristiwa tersebut. Beberapa tahun lalu, dunia juga berduka atas kecelakaan yang menimpa klub Brazil, Chapocoense. Saat itu juga Atletico Nasional yang menjadi lawan mereka dengan rela dan sebagai tanda penghormatan memberikan piala Sudamericana 2016 kepada Chapocoense.

Toleransi juga pernah terjadi di Jerman. Ketika itu tim Prancis, AS Monaco menyambangi markas Borrusia Dortmund dalam laga 16 besar Liga Champions. Tepat beberapa jam sebelum pertandingan, ada ledakan bom di kota tersebut dan membuat banyak suporter panik. Di tengah situasi itu, para suporter Dortmund memberi penginapan bagi suporter AS Monaco.

Tentang demokrasi dan sepakbola, Gus Dur pernah menulis kalau demokrasi itu ibarat sistem dan gaya bermain setiap tim di Eropa. Misalkan saja, katanya, ada waktu ketika menerapkan cattenacio Italia untuk bertahan; ada waktu untuk menguasai bola seperti total footbal Belanda; atau kick and rush ala Inggris dalam menyerang.

Semua ada filosofinya. Pastinya, untuk meraih suatu hasil atau mencapai suatu tujuan, butuh kerja keras dan ketekunan untuk melewati proses.

Ketekunan untuk melewati proses sebenarnya menjadi spirit dasar setiap aliran bola di lapangan. Ada saat untuk bertahan, ada saat untuk menguasai bola, ada saat untuk menekan dan menyerang.

Semua berjalan dalam sebuah lingkaran proses yang tak pernah putus selama 90 menit. Peluit akhir adalah jeda untuk “melihat kembali” permainan sebelum pertandingan berikut. Hal inilah yang sering luput dan hilang dari sepabola saat ini. Orang-orang cenderung melihat hasil yang dicapai tanpa pernah sedikit pun melihat proses di balik itu.

Namun, secercah sinar itu masih ada di timnas Qatar. Qatar menjadi fenomenal bukan semata-mata mereka menjadi juara Piala Asia 2018, melainkan karena mereka telah menjalankan serangkaian proses panjang dalam sepakbolanya. Kesabaran dalam menjalani proses adalah kunci utama kesuksesan tim asuhan Felix Sanchez itu. Sanchez tiba di Qatar tahun 2006 untuk membina talenta-talenta muda dan dua belas tahun kemudian, dia memetik hasilnya, menjadi juara dengan mengalahkan Jepang dengan skor 3-1. Tentang dia, bek Qatar, Bassam al-Rawi berkata:

“Dia tahu apa yang kami sukai maupun tidak. Kami tahu apa yang ia inginkan dari kami. Dia seperti seorang ayah bagi kami”.

Benarlah kalau ada yang bilang: hasil tidak pernah mengkhianati proses!

.

*) Penulis adalah pencinta sepakbola, tinggal di Ritapiret, Maumere, Flores.

Check Also

Drama Lawak (Ketum) PSSI

(Foto: https://goo.gl/images/o9uiUw)     Oleh: Daniel Wolo*   Timnas Senior Indonesia kembali gagal dalam turnamen …

Oba Bha’i dan Antroposentrisme Bola

(Foto: RN)   Oleh: Roymund Nage* Menyaksikan PSN Ngada menjadi kampiun sepakbola NTT bukan lagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *