Home / Dipantara / Olahraga / Malam Neraka, Kelicikan yang Brilian, dan Sihir yang Menguap

Malam Neraka, Kelicikan yang Brilian, dan Sihir yang Menguap

(Sumber gambar: bola.net)
.

Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage*

Barcelona datang dengan keunggulan 3 poin kandang. (Mungkin) Mimpi untuk berada di final telah paten dalam benak segenap anak asuh Valverde. Atau janji Messi untuk membawa pulang trofi Liga Champions (mungkin juga) akan segera terwujud. Sebab, setelah mampu melewati hadangan Liverpool, mereka “hanya” perlu menyingkirkan Ajax atau Totenham — dua klub yang di atas kertas, relatif jauh berbeda kualitasnya.

Mimpi tentang kemenangan ini amat jelas. Dari Camp Nou, ia menyeberang-menyebar jauh hingga ke seluruh penjuru dunia. Seorang teman saya yang mendaku sebagai Cules sejati (meski dia hanya mampu memakai merchandise palsu-murah yang justru sangat merugikan Barcelona), bahkan berapi-api mengatakan Barcelona juara Liga Champions 2019 sejak mereka mampu mengubur Manchester United di Camp Nou, beberapa pekan lalu yang amat menyebalkan itu.

Pada sisi yang lain, secara realistis, sulit bagi pendukung Liverpool untuk mendambakan “Madrid 2019”. Pada spanduk tribun, yang berkibar hanya lembaran kenangan nostalgia tentang Istanbul 2005, Roma 1977 dan 1984, Wembley 1978, atau Paris 1981.

Situasi ini bertambah suram, lawan mereka adalah Barcelona, klub yang baru saja mengunci gelar La Liga. Dan paling penting, mereka memiliki Messi, laki-laki dengan sihir di kedua kakinya yang ketika berhasil mendekorasi tendangan bebas cantik untuk gol ketiga Barcelona pekan lalu, ia justru mendapat sanjungan dari Kloop dan beberapa punggawa Liverpool.

Namun, di tengah pertarungan antara nelangsa gelap dan optimisme yang berkobar-kobar itu, sepak bola kembali hadir dengan definisi yang amat kodrati: bola itu bundar. Ia bisa menggelinding ke mana saja untuk meciptakan kejutan, menghadirkan drama, atau membalikan segala predikisi dengan mudah.

Barca boleh percaya diri, tetapi Liverpool pernah mengecap final musim lalu. Di Kiev, hanya blunder Karius dan kelicikan Ramos-lah yang membuat mereka tersingkir. Selebihnya, mereka terus bertransformasi. Kokoh di belakang, represif di tengah, dan tajam di depan. Satu kekalahan dari 37 pertandingan di Liga Premier adalah buktinya.

Klopp telah berjanji bahwa anak buahnya akan bermain sepak bola “berani” ketika bersua kesombongan tradisional Barcelona dengan Messi di kubunya. Pada situasi macam ini, agaknya, dia tahu persis rasa dan cara menghabisi lawan di kandang. Bertahun-tahun dia telah belajar dan melakukan itu di Dortmund ketika mereka terus menjadi pengganggu serius bagi raksasa Munchen.

Dan ucapan Klopp benar terbukti, di Anfield, kita melihat Liverpool menolak untuk mundur dan memberi ruang, lalu pada momen yang tepat mereka membuat finishing cepat dan kejam.

Drama itu dimulai lebih awal, pada menit ke-7. Bermula dari kesalahan Jordi Alba di sisi kiri dan diakhiri oleh sontekan Origi. Liverpool menyamakan kedudukan 3-1.

Sesudah itu, sepanjang paruh pertama, ada bahaya yang ditimbulkan oleh Messi, Luis Suárez, dan Philippe Coutinho. Messi sendiri memiliki setengah lusin upaya menaruh bola ke gawang tapi selalu meleset. Sementara, di bawah mistar gawang, Alisson yang berpengalaman menguburkan mimpi Barcelona di Olimpico musim lalu, berdiri menjadi tembok terakhir yang hampir sulit ditaklukkan.

Bergeser ke paruh kedua. Seorang pria yang baru merengsek masuk dari kursi cadangan, Georginio Wijnaldum, berhasil membuat seisi Anfield bergemuruh panjang. Dalam dua menit yang singkat, dia dua kali menempatkan bola di dalam jala Ter Stegen. Kedudukan kini menjadi 3-3.

Dengan agregat yang ada, baik Barca maupun Liverpool masih punya kesempatan yang sama, setidaknya asa itu hadir hingga menit ke-78.

Pada menit ke-79, drama terjadi. Di menit itu, semua pemain Liverpool mundur dari upaya menerima bola sepakan pojok. Mereka hanya menyisakan Origi di depan mulut gawang. Trent Alexander-Arnold tepat di sudut kiri siap mengambil sepakan pojok, tapi dia dengan licik berpura-pura meninggalkan bola seolah-olah hendak diserahkan kepada Shaqiri di dekatnya. Namun kemudian, secepat kilat, dia kembali lagi untuk mengirim umpan brilian kepada Ogiri, yang dengan satu tembakan berhasil membuat jala Ter Stegen bergetar untuk kali ke-4.

Agregat berubah menjadi 4-3, Barcelona yang kehilangan konsentrasi tampak tak berdaya sesudah itu. Anfield menjadi neraka yang membakar semangat mereka. Pada sisa waktu, kita tidak melihat kreativitas Messi seperti biasanya untuk mengejar defisit gol. Sihirnya menguap, dia ditelan oleh kolektivitas permaian Liverpool yang berani.

Di tribun, The Kop tampak bergembira. Bayangan merengkuh gelar hadir kembali. Anfield adalah surga bagi mereka — neraka bagi Barcelona.

.

*) Penulis adalah pengajar pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Citra Husada Mandiri Kupang, NTT.

Check Also

Drama Lawak (Ketum) PSSI

(Foto: https://goo.gl/images/o9uiUw)     Oleh: Daniel Wolo*   Timnas Senior Indonesia kembali gagal dalam turnamen …

Oba Bha’i dan Antroposentrisme Bola

(Foto: RN)   Oleh: Roymund Nage* Menyaksikan PSN Ngada menjadi kampiun sepakbola NTT bukan lagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *