Home / Dipantara / Olahraga / Ada Gairah di Balik Bola

Ada Gairah di Balik Bola

(Sumber gambar: id.aliexpress.com)
.

Oleh: Boy Doreng*

Kedatangan Zinedine Zidane memang tak terlalu diharapkan oleh para pendukung Real Madrid. Waktu itu, para fans Los Galacticos lebih merindukan pelatih-pelatih berkelas lainnya seperti Joachim Löw atau Mauricio Pochettino. Zidane — kala itu melatih tim Castilla — didapuk untuk melanjutkan estafet kepelatihan era Rafael Benitez. Benitez lengser karena tidak sesuai keinginan sang bos, Florentino Perez. Dan Zidane adalah “pengganti sementara”. Namun, seperti menjawab keraguan para pendukung, Zidane berhasil membawa Madrid menjadi Raja Eropa. Tak tanggung-tanggung, tiga kali beruntun trofi Kuping Besar “berumah” di Bernabeu. Sejak saat itu juga, Zidane menjadi salah satu pelatih idola dan banyak diincar oleh klub-klub besar lainnya.

Zidane, saat menduduki kursi kepelatihan, memang tidak banyak melakukan perombakan skuat, tetapi ia mampu membawa Madrid sebagai Raja Eropa. Zidane berhasil mengkombinasikan pemain-pemain senior seperti Marcelo dan Cristiano Ronaldo, dengan para pemain muda seperti Marco Asensio atau Lucas Vasquez. Hasilnya, Madrid menundukkan Juventus di Cardiff, Atletico di Milan, dan Liverpool di Kiev. Transfermarket Asensio, dkk. pun melonjak jauh. Ketika ditanya oleh wartawan ESPN sebelum laga final melawan Liverpool kali lalu, apa yang membuat Madrid begitu hebat di tangannya, Zidane dengan tenang menjawab:

“Saya tidak jago soal taktik, tetapi saya punya gairah dan ilusi. Itu lebih penting!”

Gairah. Itulah salah satu kata kunci untuk memahami sepakbola.

Sepakbola, kata Christian Spiller wartawan bola dari koran Zeit, adalah olahraga yang aneh.

Keanehan sepakbola terletak pada ketidakpastian yang terjadi selama 90 menit. Sepakbola aneh karena tim yang bermain jelek dan kalah dalam penguasaan bola, bisa menang melawan tim yang bermain sangat bagus dan menguasai jalannya pertandingan. Karena itu, sepakbola itu misterius dan susah ditebak. Bermain sepakbola ibarat memasuki lorong gelap yang mana kedua kesebelasan “bermain” dalam kegelapan tanpa tahu adakah titik cahaya di ujung lorong, yakni kemenangan. Oleh sebabnya, sepakbola itu kadang menakutkan.

Sepakbola, kata Jurgen Klopp, bukanlah playstation.

“Anda pikir ini playstation, memasukkan penyerang tambahan dan sepakbola langsung berubah. Tidak seperti itu, kami sudah sangat menyerang, sepakbola tidak bekerja seperti ini”, ujarnya ketika timnya imbang melawan Everton.

Keanehan sepakbola seperti kata Spiller memang sering terjadi. Tengok saja kiprah Timnas Zambia di Piala Afrika 2012. Pada pertandingan final melawan Pantai Gading, Zambia tidak diunggulkan karena secara kualitas tim mereka kalah jauh dibanding Pantai Gading dengan sederetan nama-nama tenar seperti Didier Drogba (Chelsea), Toure bersaudara (Man. City dan Liverpool), Gervinho (Arsenal), dan beberapa bintang lain yang bermain di liga-liga Eropa. Pertandingan itu ibarat pertarungan Daud melawan Goliat. Sebab, semua khayalak tahu dan yakin kalau Pantai Gading pasti akan keluar sebagai kampiun. Namun, realitas berkata sebaliknya. Zambia bermain penuh gairah dengan semangat juang tinggi. Semangat begitu menbuncah dalam diri sehingga mereka berhasil memberi perlawanan sengit terhadap Drogba, dkk. Hasilnya, mereka keluar sebagai kampiun setelah memaksa Pantai Gading bermain hingga babak adu penalti.

“Ada semangat istimewa dalam diri kami. Itu sudah tertulis di langit,” kata Herve Renard, pelatih yang membawa Zambia menjadi juara Piala Afrika pada tahun 2012 lalu.

Semangat istimewa tidak lain adalah memori kolektif kecelakaan pesawat generasi emas Zambia pada April 1993. Kecelakaan — yang paling tragis di Afrika — itu menewaskan 30 orang yang adalah talenta dan generasi emas Zambia. Padahal, generasi inilah yang berhasil mengalahkan Italia dengan skor 4-0 di Olimpiade 1988. Tragedi itu sekaligus mengubur dalam-dalam mimpi Timnas Zambia untuk berlaga di Piala Dunia 1994. Tragedi jatuhnya pesawat itu tejadi di Samudera Atlantik tak jauh dari Braville, Gabon. Dan Zambia datang ke Gabon dengan gairah-gairah para generasi emas. Pertandingan melawan Pantai Gading adalah bukti kalau mereka “membawa semangat” para pemain yang meninggal pada tragedi 1993 itu.

Sepakbola itu sangat unik. Selain karena misterius dan susah ditebak, sepakbola tidak hanya soal taktik dan kalkulasi-kalkulasi matematis semata. Melampaui semuanya itu, sepakbola juga soal gairah dan semangat bermain. Tanpa gairah dan semangat bermain, sebuah tim tak akan meraih hasil maksimal.

Dan gairah dan semangat itu berbeda-beda dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya. Apa yang terjadi hari ini bukanlah patokan utama untuk menilai hari berikutnya. Tottenham Hotspur dan Liverpool membuktikan hal tersebut.

Keduanya — yang telah “dilukai” pada leg pertama — bangkit pada leg kedua. Liverpool di leg pertama harus takluk 3-0 di kandang Barcelona dan menjalankan mission imposible di Anfield dengan dua beban: memikirkan Wolverhampton Wanderes dan bertanding tanpa dua ujung tombak, Bobby Firmino dan Mo Salah.

“Dua striker terbaik dunia (Firmino dan Salah) tidak bisa bermain dan kami harus membuat empat gol dalam 90 menit. Sepanjang punya 11 pemain, kami akan mencobanya. Jika berhasil, hal itu akan sangat indah. Namun, jika tidak, kami gagal dalam cara yang terindah (berjuang)”, ungkap Jurgen Klopp untuk membakar semangat juang anak-anaknya.

Tanpa Salah dan Firmino, taktik gegenpressing Klopp berjalan sangat baik dan tak disangka, mereka menaklukkan Barcelona dengan 4 gol tanpa balas. Kejelian Klopp dalam meracik strategi dan gairah bertanding yang tinggi menjadi kunci kemenangan Liverpool. Malam itu, Liverpool betul-betul menjadi kryptonite bagi sang superman Barcelona, seperti kata Graham Hunter. Sebaliknya, Barcelona kembali gagal move on dari memori epic comeback Roma musim lalu.

“Itu terasa seperti luka batin. Kami ingin menghapusnya dan meraih musim yang indah guna melupakannya”, kata Clement Lenglet.

Messi dkk. harus merasakan kembali momen itu dan mimpi treble akhirnya sirna. Laga di Anfield serasa pertarungan ganda bagi mereka: melawan Liverpool dan melawan trauma di Roma musim lalu.

Sampai di sini benarlah kata Agus Noor: “Tuhan menciptakan kenangan, tetapi lupa memberi tahu kita cara menghapusnya”.

Berbeda dengan Liverpool, Tottenham harus berjuang habis-habis dalam laga di Amsterdam itu. Ungkapan No Kane No Party seperti menegaskan apa yang terjadi di Tottenham Hotspur Stadium. The Lilywhites tumbang oleh gol Van de Beek. Namun, gairah dan semangat kolektif menjadi “pedang” punggawa Tottenham memukul balik De Light dkk.

“Ini laga yang gila, kami benar-benar tertinggal jauh. Kami coba bangkit, kami beruntung”, kata Cristian Eriksen.

Selama masih ada waktu semuanya bisa terjadi. Inilah yang dipegang oleh Lucas Moura, pahlawan pada laga itu, dan rekan-rekannya. Gol Moura di menit akhir seperti tamparan tak terduga bagi Ajax. Tiket final yang sudah di tangan direnggut secara paksa oleh gol ketiga ke gawang Onana pada laga itu. Sejarah baru terjadi: Tottenham lolos ke final liga champions untuk pertama kalinya.

“Mereka semua pahlawan karena telah berjuang habis-habisan. Tapi Moura malam ini adalah superhero-nya”, tegas Mauricio Pochettino.

Di Madrid nanti, kedua tim akan bertarung merebut trofi si Kuping Bundar. Bagi Tottenham, laga di Wanda Metropolitano nanti menjadi kesempatan untuk menulis sejarah baru dalam sepakbola Eropa. Bagi Liverpool, final ini akan menjadi ajang penebusan setelah gagal di Kiev tahun lalu. Dan trofi itu — selain Premier League — adalah jawaban atas nasib Klopp.

“Kami akan memenangi salah satu trofi di musim keempat. Kalau tidak, saya akan melatih di Swiss”, ujar Klopp, saat pertama kali datang ke Liverpool empat tahun silam.

Entahlah, waktu 90 menit dan gairahlah yang akan menjawab kerinduan-kerinduan ini. Juga prediksi-prediksi (yang kadang tak jitu) dari Anda sekalian. ***

.

*) Penulis adalah pencinta sepakbola, tinggal di Ritapiret, Maumere, Flores.

Check Also

Drama Lawak (Ketum) PSSI

(Foto: https://goo.gl/images/o9uiUw)     Oleh: Daniel Wolo*   Timnas Senior Indonesia kembali gagal dalam turnamen …

Oba Bha’i dan Antroposentrisme Bola

(Foto: RN)   Oleh: Roymund Nage* Menyaksikan PSN Ngada menjadi kampiun sepakbola NTT bukan lagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *