Home / Berita Terkini / Menyantap Makanan di Timor vs di Jawa

Menyantap Makanan di Timor vs di Jawa

(Aktivitas di Pasar Alok, Maumere. Sumber foto: cendananews.com)

.

Oleh: Aisy Karima Dewi*

Setelah beberapa waktu tinggal di Kupang, Nusa Tenggara Timur, saya sering ditanyai sebuah pertanyaan khusus oleh orang-orang setempat.

Karmana? Enak di NTT atau Jawa?”

Sejujurnya, pertanyaan ini agak menyentil perasaan saya. Pertanyaan ini secara langsung mengingatkan saya soal pembangunan di Indonesia yang masih Jawa-sentris. Saya di Jatim enak-enakan menikmati listrik 24 jam setiap hari, sementara kawan saya di Bajawa mesti sigap men-charge HP penuh-penuh sebelum petang. Sebab saat masuk petang itulah, listrik kerap padam, kadang sampai 12 jam. Itu hanya satu contoh. Belum menyoal jalan, akses air bersih, sarana-prasarana pendidikan, dan lain-lain.

Lalu, apa jawaban saya? Saya biasa menjawab, “Dalam beberapa urusan, masih enak di Pulau Timor”

[Baca juga: NTT dan Provinsi Kepulauan]

.

Si penanya biasanya tidak percaya.

“Masa enak hidup di Timor ketimbang di Jawa? Jawa kan enak. Semua-semua serba ada”

Tak jarang ungkapan itu diikuti dengan kalimat lain, yakni “Saya saja kalau boleh pengen tinggal di sana….”

Namun, saya bersikukuh kalau dilihat dari beberapa hal. Hidup di Timor itu jauh, jauh lebih enak. Contohnya, dalam urusan makanan.

Kenapa makanan? Sebab makanan adalah hal paling krusial dalam bertahan hidup. Kalau lidah dan perut cocok dengan makanan di suatu tempat, aspek yang lain bisa saja menyesuaikan.

Untuk bisa makan makanan sehat nan lezat, saya memilih menyantap memasak saya sendiri. Agar saya bisa masak, tentu saya mesti berburu bahan pangan, yakni sayur dan bahan pangan lain untuk lauk sehari-hari. Inilah bagian yang saya sukai. Di Kupang, saya gampang sekali menemukan sayur dan buah-buahan organik. Sebab kondisi alam yang surgawi, beberapa jenis sayur di Timor tidak butuh semprotan zat-zat pengusir organisme pengganggu atau pupuk kimia. Sebut saja bayam, atau kangkung.

Saya pun masih menemui orang-orang tua yang menanam sayur-sayurnya sendiri. Mama Lia, salah satunya. Beliau menanam tomat, bawang hingga kangkung, yang dipupuk dengan kotoran sapi, kambing atau babi. Lebih sedap, sehat, dan hemat, katanya.

Pun, jika ingin makan buah-buahan, saya tak perlu khawatir. Sebab, Timor punya buah-buahan lokal yang melimpah. Ada musim avokad, apel, jeruk, jambu hutan hingga srikaya. Semuanya buah-buahan lokal dan dijual oleh masyarakat lokal pula. Jika sedang musim, harga buah bisa sangat murah. Contoh, avokad mentega yang besarnya hampir seperti kepala bayi itu bisa dijual seharga Rp1.000,00 saja.

Saya belum bicara soal ikan, cumi-cumi, atau udang di Timor. Pokoknya, dari segi makanan, Pulau Timor adalah surga.

Terlepas dari suka ria saya memanjakan lidah di Timor, tentu ada perubahan tentang bagaimana saya memandang makanan dan pembangunan di Pulau Timor secara keseluruhan. Saya kerap mendengar ucapan para akademisi, tentang bagaimana pembangunan pertanian di Jawa adalah kiblat untuk pertanian di Indonesia. Perasaan saya tersentil lagi kalau mendengar kata-kata ini.

Mayoritas orang beranggapan kalau apa-apa yang di Jawa itu pasti lebih baik, termasuk aspek pertaniannya. Katanya, pertanian dan peternakan di NTT mesti diintensifkan, supaya dapat menghasilkan profit yang melimpah lagi. Uang lagi, uang lagi. Namun, apakah benar model pertanian dan peternakan yang intensif itu lebih baik? Apakah uang menjadi tujuan akhir?

[Baca juga: Relasi Tidak Searah Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Dana Desa Terhadap Kasus Stunting di Nusa Tenggara Timur]

.

Tentu tidak. Jika dilihat, Jawa kini sebenarnya mati-matian berusaha mengembalikan pertaniannya ke pertanian organik. Sementara tanah sawah telah kecanduan pupuk kimia, buah-buahan di pasar nyaris tidak ada yang lolos dari obat kimia, banyak peralihan lahan produktif menjadi pemukiman, dan segudang masalah pertanian lainnya.

Jika mau mengakui, sebenarnya pertanian di Pulau Jawa saat ini sedang mengalami masalah dari segi keberlanjutannya.

Dari segi pemasaran, petani di Timor memiliki keunggulan, sebab masih punya daya untuk menentukan harga produknya sendiri. Tidak banyak tengkulak sayur. Mayoritas petani yang menanam sayurnya dibantu anggota keluarga sendiri untuk menjual sayur tersebut di pasar. Sementara di Jawa, petani sering tidak punya akses terhadap pasar. Rantai distribusi pasar begitu panjang sehingga cenderung merugikan petani, sebab produknya kerap dibeli dengan harga rendah.

Itulah kenapa Timor, dan NTT dalam lanskap luas, tidak perlu meniru pembangunan di Jawa dalam hal pertanian. Sapi-sapi di Timor tidak perlu dikandangkan, biarkan sapi-sapi tersebut makan rumput sebagaimana desain alam yang sudah sempurna. Jangan sampai sapi di Timor makan jagung, tulang, atau ayam mati. Pertanian organik mesti digencarkan lagi. Biar Timor jadi gudang bahan pangan organik.

“Kak, kakak beneran tidak nyaman makan di Timor? Kan kalau mau ke mana-mana juga jauh”

Iya, iya. Lokasi saya tinggal memang cukup jauh dari pasar, apalagi mall. Jarak tempat tinggal saya ke pasar kira-kira adalah 9 km. Sementara jika saya pengen main-main ke mall, mesti menempuh perjalanan sejauh 39 km. Namun, sekali lagi, di situlah letak kelebihannya. Karena letak pasar jauh dan mesti naik angkutan umum untuk mencapainya, saya akhirnya belajar untuk teliti saat membeli bahan makanan dan cerdas pula dalam menghabiskan setiap bahan makanan yang saya beli. Pokoknya, jatah saya ke pasar adalah sekali dalam 1 minggu.

Letak mall yang jauh itu, saya jadi jarang main-main ke sana. Rasanya semacam detoksifikasi diri dari pangan-pangan yang ‘aneh-aneh’ (dan belanja yang tidak penting). Alhasil, saya bisa mengontrol diri untuk tidak makan mekdi, tidak beli makanan kalengan, atau segala jajanan instan yang banyak mengandung sirup fruktosa. Saya bisa mengontrol apa-apa saja yang saya kunyah dan masuk ke perut saya.

Itulah kenapa saya suka makanan di Timor dan saya berharap generasi-generasi Timor selanjutnya masih dapat merasakan surganya lingkungan dan alam mereka. ***

.

(Dok. pribadi penulis)

*) Penulis lahir di Batu, Malang, yang saat ini menetap di Oelmasi, Kuimasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penulis serabutan yang suka minum es lemon-teh dan makan cilok.

Check Also

Pembangunan Bendungan Baing Melanggar Aturan dan Mengabaikan Keselamatan Warga

Ibu Djati Ata Hau mencoba menghadang alat berat yang sedang menggusur tanahnya. (Sumber foto: WALHI …

WALHI NTT DAN JPIC OFM: “Selamatkan Mangrove, Selamatkan Warga, Selamatkan Masa Depan Lingkungan!”

Walhi NTT dan JPIC OFM Indonesia yang tergabung dalam Tim Advokasi Lingkungan melaporkan pengaduan pengrusakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *