Home / Coretan Belakang Gawang / Perseftim dan Mental Juara

Perseftim dan Mental Juara

(Sumber gambar: deskgram.net — kepada pemilik foto ini, kami mohon izin menggunakannya, atau bagi yang mengetahui fotografer pemilik foto ini, mohon diinformasikan kepada kami, terima kasih)
.

PSN Ngada adalah tim terakhir di NTT yang mengalahkan tuan rumah ETMC di partai final, yakni saat berhadapan dengan Persab Belu pada ETMC tahun 2007 di Atambua. Setelah edisi Atambua itu, Ngada menjadi tuan rumah pada tahun 2009; sekaligus menjadikan Ngada sebagai tim terakhir yang tidak juara saat bertindak sebagai tuan rumah. Sementara itu, pada saat bersaamaan (tahun 2009 yang sama), Perseftim Flotim menjadi tim terakhir yang menjadi juara saat tidak berlaku sebagai tuan rumah.

Selepas edisi 2009 di Ngada itu, benar kata para warganet penikmat ETMC di NTT semalam: juara ETMC seperti arisan para tuan rumah penyelenggara. PSKK Kota Kupang memulainya pada 2010, disusul berturut-turut Persada Sumba Barat Daya (2011), Persamba Manggarai Barat (2013), Persami Maumere (2015), Perse Ende (2017), dan yang barusan selesai malam kemarin: Persemal Malaka sebagai juara ETMC tahun 2019. Enam kali berturut-turut, tuan rumah menjadi juara!

Selama dua tahun, piala bergilir ETMC akan bersemayam di Rai Malaka. Tahun 2021 nanti, lanjutan turnamen ETMC akan digelar lagi di Larantuka, Flores Timur. Namun, sudah banyak warganet yang meramalkan (mungkin juga secara iseng-iseng) bahwa Perseftim Flotim yang berpeluang besar akan keluar sebagai juara — merujuk pada tren juara para tuan rumah.

Meskipun begitu, menurut saya, Perseftim Flotim berbeda. Terlalu buru-buru kalau turut memasukkan tim kebanggaan orang-orang Nagi, Adonara, dan Solor ini ke dalam kelompok para (sorry to say, so-called) “jago kandang”.

Secara pribadi saya adalah suporter PSN Ngada sejak Sekolah Dasar. Euforia juara ETMC tahun 1997 di Kupang membuat kami hafal nama-nama para punggawanya. Sebagai kanak-kanak, kami mengenakan nama-nama itu saat bermain bola (bola plastik, lemon, bola kertas/rati, mikasa, atau bola golkar). Kami juga ikut sedih saat juara bertahan ini kalah di final ETMC 1999 Ende, dan turut marah saat siaran radio pertandingan semifinal ETMC tahun 2000 di Kupang antara PSN Ngada vs Perss Soe berakhir ricuh dan membuat PSN tersingkir. Ketika duduk di kelas 1 SMP, kami turut mengintip dari dalam kelas saat tim PSN berpawai melewati Mataloko dengan status juara ETMC 2001.

Saya lupa, saat menjuarai ETMC 2003, pawai Tim Orange ini melewati Mataloko dari arah timur ataukah dari So’a di utara. Selanjutnya, sejak masa remaja hingga kini, salah satunya, diisi dengan melihat capaian-capaian prestasi PSN Ngada di pentas NTT.

Sebagai orang yang tahun kelahirannya masuk dalam klasifikasi sebagai generasi milenial, kisah tentang PSN Ngada bisa dikatakan menyaingi kisah tentang PSN Ngada era generasi babby-boomers. Bahkan mungkin lebih spektakuler, karena sejak menjuarai ETMC tahun 2007, PSN Ngada menjadi tim pengoleksi terbanyak ETMC yakni sebanyak 7 kali. Mengungguli pesaing terdekat, PSK Kabupaten Kupang yang mengumpulkan 6 trofi. Belum lagi keberhasilan menjadi finalis Liga Nusantara 2016 (kemudian berubah menjadi Liga 3 Nasional) dan 5 kali berturut-turut menjuarai Piala Gubernur NTT yang lagi-lagi menjadikannya sebagai kolektor gelar terbanyak.

Yang menarik dari persaingan jumlah gelar PSN Ngada dan PSK Kabupaten Kupang, bagi saya, adalah tim Perseftim Flotim. Makin menarik dan mengganggu pikiran, saat para warganet meramalkannya sebagai “jago kandang” berikutnya. Warganet mungkin lupa, Perseftim Flotim jelas bukanlah tim jago kandang. Tim ini memang ‘hanya’ mengoleksi 2 gelar. Tapi, itu direbutnya saat turnamen ini digelar pertama kali pada tahun 1969 di Kupang dan tahun 2009 saat dihelat di Bajawa, Ngada. Dua gelar direbutnya di kandang dua pemimpin kolektor terbanyak.

Sehingga, lebih kepada harapan, dengan fakta historis seperti itu, saya kira Larantuka di tahun 2021 akan menjadi tuan rumah yang lebih “ramah” pada kontestan dari seluruh penjuru Flobamora. Tidak ada lagi suporter rival yang dilempari, tidak ada indikasi klenik, tidak ada lagi panitia dan Asprov yang gagap dalam menerapkan spirit fair-play dalam bola, dan tidak ada lagi kisah-kisah miring lainnya seputar bola NTT.

Hendaknya mental juara Perseftim Flotim, kembali membawa marwah ETMC sebagai medium perekat persaudaraan sesama warga Flobamora. Mungkin pada akhirnya Perseftim Flotim tak lagi mengulangi jejaknya pada tahun 1970 yang gagal menjadi juara saat menjadi tuan rumah. Kalaupun menjadi juara nanti, jadilah juara sembari menjadi tuan rumah yang mampu mengembalikan spirit yang diletakkan mendiang El Tari dan para founding-parents di masa lalu. Bahwa bola tak semata-mata sebagai kompetisi — meski ada embel-embel Liga 3 Regional — tapi benar-benar pesta bersama seluruh warga Flobamora. Semoga semangat itu bisa ‘Bale’ di Nagi nanti. Semoga.~

NB: abaikan coretan panjang di atas! Intinya, kapan ketua dan sekretaris Asprov itu diganti dan adakah evaluasi visi besar bola NTT ke depan?

.

.

-HGD, 25/07/2019.
Tinggal di twitter: @HancelGoruDolu

Check Also

Ariel Ortega dan (Aktivis) Mahasiswa*

(Foto: Wallup.net)   Ariel Ortega adalah jaminan keindahan yang mendatangkan keriuhan. Saya mengingat pagelaran Piala …

Maradona dan Tuhan yang Kiri

(Foto: theguardian.com)   Oleh: Hancel Goru Dolu*   Gol terbaik abad 20 dibuat oleh pemain …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *