Home / Coretan Belakang Gawang / Chelsea, Marion Jola, dan Pilkada

Chelsea, Marion Jola, dan Pilkada

User Rating: 4.67 ( 3 votes)
(Foto : merdeka.com)


Oleh : Hancel Goru Dolu

Paradoks utama dari semua kompetisi adalah hadirnya pemenang dan pihak yang tersingkirkan. Ada pihak yang tertawa, adapula pihak yang getir merenungi kekalahan. Dan kekalahan, seringkali menyakitkan. Penggemar  klub sepakbola Chelsea FC, fans Marion Jola, dan pendukung para bakal calon dalam kontestasi Pilkada, pasti sangat memahami arti kekalahan itu. Apalagi sepakbola, dunia hiburan, dan panggung politik senantiasa menjadi medan perang terbuka di antara para pemandu sorak.

“Lionel Messi pagi tadi mencetak 4 gol. Dua ke gawang Chelsea, dua ke kolong selangkangan Thibaut Courtois,” ujar seorang teman via sambungan telepon. Ujaran sejenis ini dan rupa-rupa meme bertebaran di linimasa media sosial. Messi memang memporak-porandakan barisan pertahanan Chelsea lewat satu assist pada Ousmane Dembele dan dua gol nutmeg-nya. Hanya dia seorang yang telah melakukan itu. Dan, kejeniusannya adalah modal bagi para pemandu soraknya untuk berekspansi di jagat media sosial.

Tak ubahnya perang di masa lalu, eksploitasi selalu hadir sebagai pembuka kisah baru di akhir pertarungan. Para pemandu sorak pihak pemenang akan membangun hegemoni atas para rivalnya. Berbagai prediksi, keyakinan, dan psy-war sebelum laga akan berakumulasi menjadi tertawaan, ejekan, dan aneka nyinyiran. Terutama di linimasa media sosial, tempat para warganet berkumpul via jempol di gawai masing-masing.

Aneka nyinyiran dan saling ejek ala dunia maya itu, boleh jadi tak melanggar berbagai konstruksi sosial yang telah disepakati bersama. Bisa jadi pula, itu dilakukan dalam batas-batas kewajaran dan mempererat tali perkawanan di dalam perbedan pilihan. Merayakan perbedaan memang bisa dilakukan dengan beragam cara, termasuk saling cuit antar rival tersebut.

Namun, itu semua akhirnya bermuara pada satu hal: kompetisi dan rivalitas memang telah merasuki berbagai bidang kehidupan. Banalitas relasi kuasa dan tengiknya pertarungan ekonomi politik, ternyata secara halus disemai melalui hal-hal yang dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari. Survival of the fittest (pihak yang terkuat adalah pemenang) yang menjadi landasan tatanan kapitalisme bak  terus ditanamkan oleh semacam invisible hand (tangan-tangan tak kelihatan).

Belum habis pro-kontra soal para calon yang disingkirkan dari pertarungan Pilkada oleh kasus hukum. Belum usai pula spekulasi soal tersingkirnya Marion Jola dari kontes Indonesian Idol. Hari ini linimasa media sosial ramai dengan aneka pembahasan tentang tersingkirnya Chelsea dari babak knock-out Liga Champions Eropa. Apakah hari-hari manusia memang selalu diisi dengan aneka pertarungan? Ataukah rivalitas yang menjadi benih dari berbagai pertarungan itu hanyalah pelarian dari berbagai himpitan kehidupan, yang kemudian dipelihara oleh invisible hand  untuk motif tertentu?

Pertarungan mungkin tak akan pernah hilang. Sebab dia setua peradaban manusia. “Perang adalah praktik kuno manusia,” tulis Sir Henry Maine, seorang Hakim Inggris di pertengahan abad ke-19. Residu watak-watak perang yang ekspansif dan eksploitatif tampaknya akan tetap ada, manakala praktik-pratik kuno yang bertumpu pada kompetisi tetap dihidupkan.

Para politisi akan terus-menerus bersikap saling menyingkirkan, seperti halnya klub sepakbola saling mengalahkan dan panggung hiburan mengorbitkan atau bahkan menghilangkan para bintangnya. Kecerdikan politisi, ketangguhan klub sepakbola, dan keindahan dunia hiburan pada akhirnya menjadi sajian bagi publik secara luas. Bersama kegembiraan maupun kegetiran yang saling berhadap-hadapan di dalamnya.

*) Pengasuh rubrik ‘Coretan Belakang Gawang’ di HorizonDipantara.com

Check Also

Zabivaka yang Buas

(Foto: pionicon.com)   Oleh: Hancel Goru Dolu*   Musim panas di negeri Siberia jadi panggung …

Ariel Ortega dan (Aktivis) Mahasiswa*

(Foto: Wallup.net)   Ariel Ortega adalah jaminan keindahan yang mendatangkan keriuhan. Saya mengingat pagelaran Piala …

2 comments

  1. Mantap…”Survival of the fittest” (Yg curang selalu menang),

    Sori ralat…(Yg terkuat adalah pemenang),

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *