Home / Coretan Belakang Gawang / Abadikah Totti di Kota Abadi?

Abadikah Totti di Kota Abadi?

(Foto: http://Sport.sky.it)

 

No Totti, No Party!

Begitu bunyi spanduk yang selalu dibawa oleh suporter di Curva Sud Stadion Olympico, Roma. Curva Sud merupakan bagian stadion yang ditempati suporter AS Roma. Sementara suporter dari rival abadi mereka, Lazio, menempati tribun bagian utara yang biasa disebut Curva Nord. Tak ada Totti, tak ada pesta. Slogan tersebut bisa bermakna dua hal.

Pertama, tanpa kehadiran Totti dalam pertandingan, apapun capaian klub dianggap tak ada artinya. Kedua, mereka menganggap pertandingan sepakbola sebagai sebuah pesta, sebagai sebuah perayaan kegembiraan. Dan Totti adalah unsur terpenting dari perayaan bola tersebut. Totti adalah dirigen yang menghibur melalui kaki, isi kepala, dan kandungan hatinya.

 

Celah Para Legenda

Tak ada pemain yang lebih besar dari klub. Hampir semua publik bolamania meyakini credo ini. Sebab, sekecil apapun, klub akan tetap lebih besar dari pemain besar manapun. Pemain datang dan pergi, legenda silih berganti, tapi klub tetap tegak berdiri. Ini pendapat yang hampir mustahil dibantah.

Banyak legenda yang pernah sangat berjasa bagi klub lalu jadi bukti. Mereka dengan mudah disingkirkan manakala tak lagi dibutuhkan.

Raul Gonzales di Real Madrid dilepas demi mengakomodir bintang baru, begitupula Iker Casilas beberapa musim setelahnya. Alessandro del Piero disisihkan di masa-masa akhir pengabdiannya bersama Juventus. Wayne Rooney di Inggris dipusingkan dengan masa depannya yang tak lagi menjanjikan bersama Manchester merah. Dan banyak contoh lainnya.

Para bolamania mungkin saja bakal mengajukan contoh Paolo Maldini ataupun Zinedine Zidane sebagai pembeda. Maldini setia bersama satu klub, AC Milan, hingga akhir karirnya dengan mempersembahkan banyak gelar dan rekor. Zidane pun bergelimang gelar dan kemashyuran di berbagai tim yang dibelanya. Keduanya, yang selama bermain selalu ditemani bintang-bintang hebat itu, mengakhiri karir dengan perlakuan manis dari klub-nya masing-masing.

Contoh belakangan ini bisa diterima. Tapi, pertanyaan baru lalu muncul. Pernahkah pesona Zidane dengan segala kehebatannya, mampu melebihi kebesaran tim-tim yang pernah dibelanya? Mampukah Maldini setia di AC Milan jika bertahun-tahun tanpa gelar bergengsi sementara kualitas hebatnya terus diganggu oleh gelontoran dana serta kans gelar dari tim mapan lain?

Zidane tak pernah mampu. Maldini tak pernah teruji. Dua pertanyaan di atas dulunya hanya bisa dijawab oleh seorang Diego Armando Maradona. Dia datang dari tim besar untuk menjadi Mesiah bagi tim kecil dari kota Naples di selatan Italia, SSC Napoli. Dia lalu, seperti seorang diri, membawa gelar lokal dan Eropa bagi tim tersebut. Para tifosi klub tersebut memujanya bak dewa di langit.

“Kemegahan langit tidak cukup untuk menjelaskan cinta yang kami miliki untukmu,” demikian bunyi salah satu banner besar dari penduduk Naples yang berisi harapan pada Maradona dalam laga penentuan gelar Scudetto Seri A Italia tahun 1990.

Sependek pengetahuan saya, hampir tak ada lagi yang seperti Maradona, yang pesona dirinya bahkan melebihi klub yang dibelanya. Orang menghormati Napoli karena mereka (pernah) memiliki Maradona. Bukan hanya pada warga Naples, Maradona bahkan membawa kebanggan wilayah selatan Italia menantang hegemoni tim-tim kaya dari utara.

Namun, ingatan tentang Maradona selalu membawa pada kisahnya di Kota Abadi, Roma. Sang Dewa Bola menunjukkan kepongahannya setelah menyingkirkan tuan rumah Italia di semifinal Piala Dunia 1990. Para tifosi Azzuri pun berang. Di final, yang dihelat di Stadion Olympico Roma, mereka mendukung Jerman. Segala kebesaran dan keagungan Maradona pun takluk di bawah teror warga Roma. Maradona diusir dari kota abadi.

 

Totti Sang Penguasa Kota Abadi

Roma telah memilih Pangeran-nya sendiri ketika Sang Dewa Bola menangisi kegagalannya di Olympico. Tak ada kepongahan yang bisa mengakhiri keabadian bekas ibukota dunia itu. Roma hanya bisa didekap dengan cinta dan keindahan. Kelak, Pangeran yang mampu mewujudkan hal itu bernama Francesco Totti.

Kota Abadi tersebut memang identik dengan cinta. Para suporter melantunkannya dalam syair, “Roma non si discute, Roma si ama.” Roma tidak untuk dipertanyakan, Roma itu untuk dicintai. Itulah yang dipegang teguh Totti sepanjang membela panji-panji Roma.

“Saya terlahir sebagai seorang Roma dan saya akan mati sebagai seorang Roma. Saya tidak akan pernah meninggalkan tim ini atau kota saya,” tegas Totti.

Dirinya bergabung dengan tim junior Serigala Roma setahun sebelum Piala Dunia dihelat di Italia. Berbekal kemampuan olah bola dari jalanan sempit di Via Vetulonia di selatan Basilika, Coliseum, dan Teater yang tersebar di pusat kota Roma, Totti lalu muncul jadi ikon klub di kota abadi tersebut.

Il Principe (The prince), Il Bimbo de Oro (The Golden Boy), Il Gladiatore (The Gladiator), adalah julukan yang mulai disematkan padanya saat mulai membuat debut di tim senior AS Roma pada musim kompetisi 1992/1993 dalam usia 16 tahun, hingga kini. Dan seperti bunyi spanduk dan nyanyian di Curva Sud, Totti tak henti mempersembahkan cinta dan keindahan selama 28 tahun bergabung di AS Roma.

“Zeman ingin saya tampil menghibur. Orang-orang pergi ke stadion untuk menyaksikan pertunjukkan, bukan hanya melihat kami menang. Bermain menghibur adalah sebuah kebanggaan,” kata Totti suatu kali.

Zeman, merujuk pada nama pelatih gila menyerang asal Ceko, Zdenek Zeman. Pelatih yang sangat berpengaruh bagi perkembangan Totti di Roma, selain Carlo Mazzone. Keduanya adalah pelatih yang mampu memaksimalkan kejeniusan Totti sebagai pesebakbola. Zeman yang pemadat memberikan keleluasaan bagi Totti untuk bergerak memaksimalkan potensi. Sedangkan Mazzone yang juga orang Roma itu, menjadi ayah kedua yang menjaga Totti dalam masa-masa awalnya sebagai bintang.

Namun, di era sepakbola modern, bermain indah atau merayakan kegembiraan sepakbola saja tidaklah cukup. Posisi sentral Totti juga lalu hadir sebagai masalah. Pengaruh Totti melebihi pelatih dan bahkan jajaran direksi klub. Hal ini lalu dikait-kaitkan dengan minimnya bintang yang hadir ke Olympico dan seretnya gelar juara bagi mereka.

Sepanjang Totti bermain di level senior, dirinya “hanya” memperoleh 1 Scudetto, 2 Copa Italia, 2 Super Italia, dan 1 Piala Dunia. Juga Runner Up di gelaran Euro 2000 dan 9 kali Runner Up Serie A Italia. Meski demikian, ada beberapa pencapaian pribadinya yang layak diajukan.

786 penampilan di laga kompetitif untuk Roma di semua kompetisi yang menjadi rekor klub, total 123 assist, 307 gol di laga kompetitif untuk Roma di semua kompetisi yang juga jadi rekor klub, 25 musim bermain di Serie A sejajar dengan Paolo Maldini (AC Milan), total 23 musim Totti mencetak gol di Serie A yang menjadi rekor Liga, 32 gol terbanyaknya dalam satu musim 2006/2007 membuatnya memenangi Sepatu Emas Serie A dengan 26 gol musim itu dan Sepatu Emas Eropa.

Usia 22 tahun ketika menjadi kapten Roma menempatkannya sebagai kapten termuda di sejarah Serie A, di usia 38-an tahun menjadi pencetak gol tertua di Liga Champions, dan berkarir hingga usia 40 tahun ketika dia melakukan penampilan terakhir untuk Roma.

Dengan rekor ataupun tanpa rekor, bersama gelar ataupun tanpa gelar, Totti tak bisa dibantah, telah merebut hati penduduk kota Roma. Dia disayangi oleh para tifosi Roma, juga dihormati oleh publik Lazio yang terkenal tak pernah ramah pada tetangganya itu. Gelar Il Re di Roma, atau Sang Raja Roma, pun melekat padanya. Dia menjadi kesayangan Roma.

 

Pengaruh Totti

(Foto: http://it.eurosport.com)

 

Totti secara sejati merepresentasikan makna jersey merah Pompei yang berarti hasrat dan gairah serta kuning keemasan yang berarti keagungan dan kemuliaan. Tak ubahnya para raja Roma di masa lampau, pengaruhnya juga mendunia.

Orang-orang menghormatinya karena loyalitas dan cintanya pada satu klub.

Publik mengagumi prinsipnya yang tak mempan oleh bujuk rayu dari AC Milan, Lazio, Real Madrid, dan gelontoran dana klub besar lainnya. Dunia (bola) larut dalam pesta perpisahannya, karena kehilangan satu pemain magis yang banyak menginspirasi.

Di dunia maya perpisahannya menjadi trending topic. Di Jembatan Margonda Depok ada ucapan penghormatan padanya, juga di belahan bumi lainnya. Banyak pesepakbola hebat dan situs resmi berbagai klub memberikan tribute.

Pengaruh Totti pada dunia di luar sepakbola, bahkan merasuk hingga ke para pemberontak di Irak yang menculik wartawati Giuliana Sgrena di tahun 2005. Sgrena berhasil bebas berkat “bantuan” Totti. Salah seorang penculik ternyata merupakan fans Totti, yang melihat aksi Totti di televisi yang berlari dengan memakai kaus bertuliskan “Bebaskan Giuliana”.

 

Di masa kami duduk di Sekolah Menengah dulu, gaya rambut Spike disebut sebagai “Rambut Totti”, merujuk pada potongan rambut baru sang pemain. Sebelum mengetahui istilah Cucchiao atau style chip ala Panenka, kami menyebutnya sebagai style Totti. Merujuk pada gol indah Cucchiao-nya ke gawang Parma yang ketika itu dijaga Gianluigi Buffon, juga pinalti ala Panenka-nya ke gawang Belanda di Euro 2000 yang dikawal Edwin van der Saar.

Kini, Il Capitano itu telah menyatakan pamit pada sepakbola. Tak akan ada lagi Romanista menyambut gladiatornya lewat orkestra dan prosesi mengagumkan,“Inilah dia, kapten kecintaan kita, sang kaisar Roma, Francesco Totttiiii!”

Tak ada lagi aksi umpan menggunakan tumit tanpa melihat rekan, cungkilan – cungkilan indah tak terduga, tembakan -tembakan berkelas, eksplosivitas dan kedalaman taktik, assist satu sentuhan, dan aneka trik lainnya, di samping karisma kepemimpinannya.

Kenangan dari nyanyian para suporter, “Un capitano, c’e solo un capitano, un capitano” akan terus dikenang. Nyanyian itu bermakna, satu kapten, hanya ada satu kapten, satu kapten.

Kapten yang juga pernah mendapat penghormatan Standing Ovation dari suporter Sampdoria sesaat setelah sang kapten mencetak gol melalui tendangan voli kaki kiri yang indah. Di Santiago Bernabeu, kandang Real Madrid pun, sang kapten pernah mendapatkan kehormatan serupa.

Sampai dengan pertandingan terakhirnya saat melawan Genoa, seruan No Totti No Party terus disuarakan. Stadion Olympico bergemuruh saat dia masuk, dan seisi stadion menangis kala sang legenda menyampaikan salam perpisahannya.

Akan abadikah Totti di Kota Abadi?

Ucapan Luiz Enrique yang dikutip Mundo Deportivo mungkin paling pas, “Totti bukan hanya sekadar Roma, Totti adalah legenda bagi seluruh dunia.” Dan semua orang tahu, dunia lebih besar dari Roma. Grazie Il Re di Roma!

 

 

–Hancel Goru Dolu

(Ditulis tepat setahun lalu, saat Totti pensiun sebagai pesepakbola).

Check Also

Ariel Ortega dan (Aktivis) Mahasiswa*

(Foto: Wallup.net)   Ariel Ortega adalah jaminan keindahan yang mendatangkan keriuhan. Saya mengingat pagelaran Piala …

Maradona dan Tuhan yang Kiri

(Foto: theguardian.com)   Oleh: Hancel Goru Dolu*   Gol terbaik abad 20 dibuat oleh pemain …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *